Manusia
adalah makhluk sosial, dari proses sosial ia memperoleh beberapa kareteristik
yang mempengaruhi perilakunya. Kita dapat mengklasifikasikannya ke dalam tiga
komponen, yaitu : Komponen afektif, Komponen kognitif, dan Komponen konatif.
Komponen kognitif adalah aspek intelektual, yang berkaitan dengan apa yang
diketahui oleh manusia. Komponen konatif adalah aspek volisional, yang
berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Sedangkan Komponen Afektif
merupakan komponen yang terdiri dari motif sosiogenesis, sikap dan emosi.
Menurut
Wikipedia dan KBBI akses merupakan
jalan masuk; terusan. Akses yang dimaksud di sini adalah sebuah jalan masuk
dari sebuah jaringan teknologi baru (Internet)
ke seluruh masyarakat. Secara umum teknologi baru dapat menjembatani
kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin, yang berkuasa dengan yang
tidak bekuasa, yang mempunyai dan yang tidak mempunyai. Teknologi baru juga
dapat memberikan masyarakat cara baru untuk berpartisipasi dan berinteraksi. Pengaruh
teknologi terhadap psikologi manusia memang sudah banyak diperbincangkan oleh
setiap orang. Revolusi teknologi sering disusul dengan revolusi dalam perilaku
sosial manusia. Alvin Tofler melukiskan tiga gelombang peradaban manusia yang
terjadi sebagai akibat perubahan teknologi: Lingkungan teknologis (technosphere) yang meliputi sistem energy,
sistem produksi, dan sistem distriusi, membentuk serangkaian perilaku sosial
yang sesuai dengannya (sosiosphere).
Bersamaan dengan itu timbulah pola-pola penyebaran informasi (infosphere) yang mempengaruhi suasana kejiwaan
(psychosphere) setiap anggota
masyarakat. Dalam ilmu komunikasi, Marshall McLuhan (1964) menunjukkan bahwa
bentuk teknologi komunikasi lebih penting daripada isi media komunikasi.
Misalnya, kelahiran mesin cetak yang emngubah msayarakat tribal menjadi
masyarakat yang berpikir logis dan individualis; sedangkan kelahiran televisi
membawa manusia kembali pada kehidupan neo-tribal. Namun dengan masuknya
teknologi baru (Internet) seperti
membawa masyarakat ke masa tribal yang lebih individualis.
Internet
dan teknologi komunikasi dirasakan dapat meningkatkan sumber daya manusia
dengan memberikan akses yang lebih baik untuk pendidikan dan pelatihan. Jika dilihat
sekarang ini, pasar tenaga kerja lebih memilih individu yang dapat menggunakan
jaringan telekomunikasi maupun teknologi baru. Bagi yang sudah terlatih atau
terbiasa pasti sangat mudah untuk mengoprasikannya, sehingga ini menjadi daya
tarik bagi employee seekers. Karyawan
yang menggunakan computer dalam bekerja juga dibayar 10-15% lebih besar dari
pada yang tidak menggunakannya.
Teori
dari Kevin Deseouza dalam jurnal milik Erin Snelgrove yang berjudul”The Psychology of Technology” mengakatakan
bahwa, Umur maupun jenis kelamin bahkan jenis profesi tidak mempermasalahkan
orang dalam menggunakan teknologi. Namun, jika kita lihat di Indonesia, mereka
yang sudah memasuki usia yang tergolong sudah tua, merasa di Intimidasikan oleh
adanya teknologi baru ini, mereka gugup dan terkadang mempunyai pengalaman yang
buruk mengenai teknologi. Contohnya seperti tidak dapat menggunakannya, atau
dirasa sangat rumit bagi mereka. Sementra Kevin Deseouza mengatakan bahwa
teknologi baru adalah sebuah keseimbangan, dimana dirinya dapat bekerja dan
melakukan aktivitas diluar rumah tanpa membawa televisi, radio, atau telepon
genggam, semuanya ada dalam sebuah gadget.
Apakah internet dapat digunakan sebagai alat untuk eksplorasi
diri? Pertanyaan tersebut bukanlah tanpa alasan mengingat bahwa banyak situs
yang menampilkan berbagai test EQ maupun IQ. Selain itu teknologi dunia maya
ini memberikan banyak kesempatan kepada individu untuk mengekspresikan diri
secara unik. Namun demikian para Psikolog berpendapat, kalau seseorang gagal
mengintegrasikan antara diri sejati dengan diri yang diekspresikan secara
berbeda di internet, maka hal ini akan sangat berbahaya bagi pertumbuhan
pribadi orang tersebut. Seperti yang dikutip dalam buku Handbook of New Media : Social Shaping and
Social Consequences of ITCs, Chapter 4 : Perspective on Internet Use: Access,
Involvement an Interaction mengatakan bahwa teknologi bertentangan dengan
kehidupan alami manusia (Stoll, 1995). Dengan demikian dunia
maya tidak bisa menjadi sumber pertemanan yang baik (Beniger, 1988). Selain itu
Shapiro dan Leone merasa bahwa ‘semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk
online, semakin sedikit waktu yang akan kita peroleh untuk berinteraksi dengan
keluarga kita, tetangga kita, dan anggota kelompok yang lainnya’. Mengenai dampak internet sebagai alat explorasi diri,
para Psikolog memandang hal tersebut tergantung dari pribadi si penggunanya.
Tentu internet akan bermanfaat jika mampu meningkatkan kehidupan seseorang, dan
sebaliknya menjadi penyakit jika membuat kacau kehidupan orang tersebut.
Pengaruh buruk akan terjadi jika internet digunakan sebagai sarana untuk
mengisolasi diri. Banyak orang tidak sadar bahwa lama-kelamaan ia menutup diri
terhadap komunikasi sosial entah karena keasikan ngebrowse atau karena internet dipakai sebagai
pelarian dari masalah-masalah yang berhubungan dengan kepribadiannya. Hal itu
dapat terjadi karena ada individu yang menampilkan kepribadian yang berbeda
pada saat online dengan offline. Motivasi dibalik itu tentu berbeda antara satu
orang dengan yang lain. Permasalahan akan rumit jika alasannya adalah karena
individu tersebut tidak puas/suka terhadap dirinya sendiri (mungkin karena rasa
minder, malu, atau merasa tidak pantas), lantas menciptakan dan menampilkan
kepribadian yang lain sekali dari dirinya yang asli. Seringkali ia lebih suka
pada kepribadian hasil rekayasa yang baru karena tampak ideal baginya.
Namun, kehadiran komputer dan
internet telah merubah dunia kerja, dari tekanan pada kerja otot ke kerja
otak. Implikasinya adalah perbedaan perilaku pria dan wanita semakin mengecil.
Kini semakin banyak pekerjaan kaum pria yang dijalankan oleh kaum wanita.
Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang
memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam
dunia bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya
merupakan pekerjaan pria semakin menonjol.
Data yang tertulis dalam buku Megatrend
for Women: From Liberation to Leadership yang ditulis oleh
Patricia Aburdene dan John Naisbitt (1993) menunjukkan bahwa peran wanita
dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang
politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri, dan berbagai
jabatan penting lainnya. Selain itu semakin banyak wanita yang menjadi pimpinan
perusahaan dan sekaligus menjadi pemilik perusahaan. Di Indonesia selama 54
tahun merdeka belum pernah ada wakil presiden wanita, kini di tahun 1999
Indonesia sudah memilikinya.
Peran
wanita dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan keluarga semakin besar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Amerika Serikat 75 persen dari keputusan
yang menyangkut kesehatan dalam keluarga diputuskan oleh wanita. Wanita membeli
50 persen dari mobil yang terjual di Amerika. Bahkan Toyota melaporkan bahwa 60
persen pembeli mobil mereka adalah kaum wanita. Sekitar 80 persen dari belanja
keperluan konsumen sehari-hari dibelanjakan oleh kaum wanita.
Hal
yang tidak kalah menariknya adalah semakin banyak wanita yang melakukan
pekerjaan yang tadinya pekerjaan yang dominan dilakukan kaum pria. Kalau semula
pekerjaan membeli ban baru untuk mobil umumnya dilakukan pria, kini ban mobil
yang terjual di USA sekitar 45 persen dibeli oleh kaum wanita. Peralatan sport
yang laku di USA 40 persen berasal dari pembeli wanita. Hal lain yang menonjol
adalah 75 persen pakaian pria dibeli oleh wanita,
dan seperempat dari mobil truk yang laku di USA dibeli oleh wanita (Aburdene
& Naisbitt, 1993).
Kesimpulannya teknologi baru memberikan akses bagi masyarakat,
namun akses itu terdapat perspektif optimis dan perspektif pesimis yang tidak
dapat dihindari. Kadang ada yang berada di dalam salah satu perspektif tersebut
namun kadang ada juga berada diantara keduanya. Keduanya saling tarik menarik
tergantung dengan anggapan masyarakat mengenainya. Teknologi memang memberikan
kemudahan dan kebaikan baik dalam pendidikan, pelatihan, dunia kerja bahkan
sosialisasi. Jika kebaikan tersebut tidak dibendung dengan baik tentu akan
memberikan sesuatu yang negatif.
Daftar Pustaka :
Joshi,
Shobhna. (2012) “Current Applications of Information Technology in Psychology”. Social
Science International Journal. 28,1. 87-92
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New
Media : Social Shaping and
Social
Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London
Pengertian Akses. http://id.wikipedia.org/wiki/Akses. diakses
pada tanggal 27 Maret 2014.
Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. PT. Remaja
Rosdakarya. Bandung
Snelgrove, Erin (2008). The
Psychology of Technology. McClatchy - Tribune Business
News.
Washington








