Friday, March 28, 2014

Kajian Internet Melalui Perspektif Optimis dengan Mempertimbangkan Perspektif Pesimis

Posted by Unknown at 5:37 PM
Manusia adalah makhluk sosial, dari proses sosial ia memperoleh beberapa kareteristik yang mempengaruhi perilakunya. Kita dapat mengklasifikasikannya ke dalam tiga komponen, yaitu : Komponen afektif, Komponen kognitif, dan Komponen konatif. Komponen kognitif adalah aspek intelektual, yang berkaitan dengan apa yang diketahui oleh manusia. Komponen konatif adalah aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Sedangkan Komponen Afektif merupakan komponen yang terdiri dari motif sosiogenesis, sikap dan emosi.

Menurut Wikipedia dan KBBI akses merupakan jalan masuk; terusan. Akses yang dimaksud di sini adalah sebuah jalan masuk dari sebuah jaringan teknologi baru (Internet) ke seluruh masyarakat. Secara umum teknologi baru dapat menjembatani kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin, yang berkuasa dengan yang tidak bekuasa, yang mempunyai dan yang tidak mempunyai. Teknologi baru juga dapat memberikan masyarakat cara baru untuk berpartisipasi dan berinteraksi. Pengaruh teknologi terhadap psikologi manusia memang sudah banyak diperbincangkan oleh setiap orang. Revolusi teknologi sering disusul dengan revolusi dalam perilaku sosial manusia. Alvin Tofler melukiskan tiga gelombang peradaban manusia yang terjadi sebagai akibat perubahan teknologi: Lingkungan teknologis (technosphere) yang meliputi sistem energy, sistem produksi, dan sistem distriusi, membentuk serangkaian perilaku sosial yang sesuai dengannya (sosiosphere). Bersamaan dengan itu timbulah pola-pola penyebaran informasi (infosphere) yang mempengaruhi suasana kejiwaan (psychosphere) setiap anggota masyarakat. Dalam ilmu komunikasi, Marshall McLuhan (1964) menunjukkan bahwa bentuk teknologi komunikasi lebih penting daripada isi media komunikasi. Misalnya, kelahiran mesin cetak yang emngubah msayarakat tribal menjadi masyarakat yang berpikir logis dan individualis; sedangkan kelahiran televisi membawa manusia kembali pada kehidupan neo-tribal. Namun dengan masuknya teknologi baru (Internet) seperti membawa masyarakat ke masa tribal yang lebih individualis.

Internet dan teknologi komunikasi dirasakan dapat meningkatkan sumber daya manusia dengan memberikan akses yang lebih baik untuk pendidikan dan pelatihan. Jika dilihat sekarang ini, pasar tenaga kerja lebih memilih individu yang dapat menggunakan jaringan telekomunikasi maupun teknologi baru. Bagi yang sudah terlatih atau terbiasa pasti sangat mudah untuk mengoprasikannya, sehingga ini menjadi daya tarik bagi employee seekers. Karyawan yang menggunakan computer dalam bekerja juga dibayar 10-15% lebih besar dari pada yang tidak menggunakannya.

Teori dari Kevin Deseouza dalam jurnal milik Erin Snelgrove yang berjudul”The Psychology of Technology” mengakatakan bahwa, Umur maupun jenis kelamin bahkan jenis profesi tidak mempermasalahkan orang dalam menggunakan teknologi. Namun, jika kita lihat di Indonesia, mereka yang sudah memasuki usia yang tergolong sudah tua, merasa di Intimidasikan oleh adanya teknologi baru ini, mereka gugup dan terkadang mempunyai pengalaman yang buruk mengenai teknologi. Contohnya seperti tidak dapat menggunakannya, atau dirasa sangat rumit bagi mereka. Sementra Kevin Deseouza mengatakan bahwa teknologi baru adalah sebuah keseimbangan, dimana dirinya dapat bekerja dan melakukan aktivitas diluar rumah tanpa membawa televisi, radio, atau telepon genggam, semuanya ada dalam sebuah gadget.

Apakah internet dapat digunakan sebagai alat untuk eksplorasi diri? Pertanyaan tersebut bukanlah tanpa alasan mengingat bahwa banyak situs yang menampilkan berbagai test EQ maupun IQ. Selain itu teknologi dunia maya ini memberikan banyak kesempatan kepada individu untuk mengekspresikan diri secara unik. Namun demikian para Psikolog berpendapat, kalau seseorang gagal mengintegrasikan antara diri sejati dengan diri yang diekspresikan secara berbeda di internet, maka hal ini akan sangat berbahaya bagi pertumbuhan pribadi orang tersebut. Seperti yang dikutip dalam buku Handbook of New Media : Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Chapter 4 : Perspective on Internet Use: Access, Involvement an Interaction mengatakan bahwa teknologi bertentangan dengan kehidupan alami manusia (Stoll, 1995). Dengan demikian dunia maya tidak bisa menjadi sumber pertemanan yang baik (Beniger, 1988). Selain itu Shapiro dan Leone merasa bahwa ‘semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk online, semakin sedikit waktu yang akan kita peroleh untuk berinteraksi dengan keluarga kita, tetangga kita, dan anggota kelompok yang lainnya’. Mengenai dampak internet sebagai alat explorasi diri, para Psikolog memandang hal tersebut tergantung dari pribadi si penggunanya. Tentu internet akan bermanfaat jika mampu meningkatkan kehidupan seseorang, dan sebaliknya menjadi penyakit jika membuat kacau kehidupan orang tersebut. Pengaruh buruk akan terjadi jika internet digunakan sebagai sarana untuk mengisolasi diri. Banyak orang tidak sadar bahwa lama-kelamaan ia menutup diri terhadap komunikasi sosial entah karena keasikan ngebrowse atau karena internet dipakai sebagai pelarian dari masalah-masalah yang berhubungan dengan kepribadiannya. Hal itu dapat terjadi karena ada individu yang menampilkan kepribadian yang berbeda pada saat online dengan offline. Motivasi dibalik itu tentu berbeda antara satu orang dengan yang lain. Permasalahan akan rumit jika alasannya adalah karena individu tersebut tidak puas/suka terhadap dirinya sendiri (mungkin karena rasa minder, malu, atau merasa tidak pantas), lantas menciptakan dan menampilkan kepribadian yang lain sekali dari dirinya yang asli. Seringkali ia lebih suka pada kepribadian hasil rekayasa yang baru karena tampak ideal baginya.

Namun, kehadiran komputer dan internet telah merubah dunia kerja, dari tekanan pada kerja otot ke kerja otak. Implikasinya adalah perbedaan perilaku pria dan wanita semakin mengecil. Kini semakin banyak pekerjaan kaum pria yang dijalankan oleh kaum wanita. Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria semakin menonjol.

Data yang tertulis dalam buku Megatrend for Women: From Liberation to Leadership yang ditulis oleh Patricia Aburdene dan John Naisbitt (1993) menunjukkan bahwa peran wanita dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri, dan berbagai jabatan penting lainnya. Selain itu semakin banyak wanita yang menjadi pimpinan perusahaan dan sekaligus menjadi pemilik perusahaan. Di Indonesia selama 54 tahun merdeka belum pernah ada wakil presiden wanita, kini di tahun 1999 Indonesia sudah memilikinya.
Peran wanita dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan keluarga semakin besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Amerika Serikat 75 persen dari keputusan yang menyangkut kesehatan dalam keluarga diputuskan oleh wanita. Wanita membeli 50 persen dari mobil yang terjual di Amerika. Bahkan Toyota melaporkan bahwa 60 persen pembeli mobil mereka adalah kaum wanita. Sekitar 80 persen dari belanja keperluan konsumen sehari-hari dibelanjakan oleh kaum wanita.

Hal yang tidak kalah menariknya adalah semakin banyak wanita yang melakukan pekerjaan yang tadinya pekerjaan yang dominan dilakukan kaum pria. Kalau semula pekerjaan membeli ban baru untuk mobil umumnya dilakukan pria, kini ban mobil yang terjual di USA sekitar 45 persen dibeli oleh kaum wanita. Peralatan sport yang laku di USA 40 persen berasal dari pembeli wanita. Hal lain yang menonjol adalah 75 persen pakaian pria dibeli oleh wanita, dan seperempat dari mobil truk yang laku di USA dibeli oleh wanita (Aburdene & Naisbitt, 1993).

Kesimpulannya teknologi baru memberikan akses bagi masyarakat, namun akses itu terdapat perspektif optimis dan perspektif pesimis yang tidak dapat dihindari. Kadang ada yang berada di dalam salah satu perspektif tersebut namun kadang ada juga berada diantara keduanya. Keduanya saling tarik menarik tergantung dengan anggapan masyarakat mengenainya. Teknologi memang memberikan kemudahan dan kebaikan baik dalam pendidikan, pelatihan, dunia kerja bahkan sosialisasi. Jika kebaikan tersebut tidak dibendung dengan baik tentu akan memberikan sesuatu yang negatif.

Daftar Pustaka :

Joshi, Shobhna. (2012) “Current Applications of Information Technology in Psychology”. Social
Science International Journal. 28,1. 87-92
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media : Social Shaping and
             Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London
Pengertian Akses. http://id.wikipedia.org/wiki/Akses. diakses pada tanggal 27 Maret 2014.
Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung
Snelgrove, Erin (2008). The Psychology of Technology. McClatchy - Tribune Business News.
          Washington

0 comments:

Post a Comment

 

maulina's room Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea